Pada tiga bulan pertama kepemimpinannya, Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi dinilai jago merangkul pemilih muda, dibanding pendahulunya.
PM perempuan pertama Jepang ini aktif menggunakan media sosial (medsos). Hampir setiap hari, dia memposting kegiatan di akun X pribadinya.
Tidak hanya itu, Takaichi juga jago memainkan drum. Ini dibuktikan saat kunjungan Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung ke Jepang pada 13 Januari 2026. Dia memainkan lagu K-Pop, Demon Hunter bersama Presiden Lee.
Tidak hanya itu, Takaichi juga terlihat luwes mengambil foto selfie bersama PM Italia Giorgia Meloni pada 17 Januari 2026.
Pernak pernik seperti tas dan pulpen Takaichi juga terlihat girly dengan pilihan warna pink pastel. Hal ini membuatnya jauh lebih menarik dibanding para pendahulunya yang merupakan politisi pria tua dan kaku.
Sejauh ini, Takaichi telah berhasil menarik perhatian kaum muda Jepang. Namun, banyak yang penasaran apakah cara Takaichi dapat membawa kemenangan bagi Partai Demokrat Liberal (LDP) di Pemilu pada 8 Februari 2026.
“Rasanya Jepang telah berubah,” ujar mahasiswa berusia 21 tahun, Genki Takahashi, usai menghadiri kampanye Takaichi di Nara pada Selasa (3/2/2016).
“Jepang telah beralih dari tradisi kaku ke inovasi,” simpulnya.
Dalam beberapa jajak pendapat baru-baru ini, dukungan untuk Takaichi dari pemilih dengan rentang usia 18-29 tahun hampir mencapai 90 persen.
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pendahulunya, Shigeru Ishiba, yang cuma meraup 38 persen. Sementara, Fumio Kishida mendapat dukungan sebesar 51 persen.
“Saya pikir dia sangat pandai memasarkan dirinya sendiri,” sebut pendukung Takaichi, Kenshiro Kawasaki (24).
Generasi muda, lanjut Kawasaki, sangat peka terhadap strategi citra politisi dan pemilih mulai bosan dengan beberapa perdana menteri terakhir.
Seorang ibu rumah tangga, Hitomi Sasaki, yakin bahwa Takaichi memiliki kebijakan yang jelas dalam memimpin Jepang.
“Dia memiliki kemauan yang kuat untuk melindungi Jepang. Saya sepenuhnya mendukungnya,” tegasnya.
Menurut analisis yang dilakukan situs data politik Senkyo.com pada November 2025, jumlah penayangan video YouTube terkait Takaichi jauh melebihi jumlah penayangan partai politik antara Juli 2025 dan November 2025.
Ketika Takaichi menjabat pada Oktober 2025, angka pencarian YouTube untuk Takaichi naik tiga kali lipat lebih besar.
Menurut profesor politik di Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat, Daniel Smith, dunia politik Jepang sangat bersifat dinasti. Sekitar 30 persen anggota parlemen di Negeri Matahari Terbit adalah politisi turun-temurun.
Namun, Takaichi tidak datang dari keluarga politisi. Janjinya untuk “bekerja, bekerja, bekerja, bekerja dan bekerja” dibuktikan ketika menjabat. Salah satunya, Takaichi rapat sejak dini hari.
“Saya mengamati dengan saksama bagaimana kaum muda mendukung pemerintahan Takaichi akhir-akhir ini,” ujar warga Tokyo Masato Iwanaka (21).
Menurut jajak pendapat yang dikeluarkan surat kabar Asahi pada 1 Februari 2026, Partai Demokrat Liberal (LDP) kemungkinan akan memenangkan mayoritas mutlak dengan 233 kursi dari total 465 kursi di Majelis Rendah (Dewan Perwakilan Rakyat) Jepang. Jumlah tersebut akan meningkat dari 198 kursi saat ini.
Sedangkan partai oposisi terbesar, Aliansi Pusat Reformasi, dalam kesulitan dan bisa kehilangan setengah dari 167 kursinya.









