Pimpinan dan Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Bandung Barat menerima audiensi dari DPD Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI) Kabupaten Bandung Barat bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) di Ruang Rapat Komisi II Kantor DPRD Kabupaten Bandung Barat. Pertemuan ini bukan sekadar agenda formal, melainkan ruang dialog yang hangat dan terbuka untuk membicarakan masa depan pencak silat sebagai bagian dari jati diri budaya masyarakat Bandung Barat.
Dalam suasana diskusi yang konstruktif, para peserta audiensi menyampaikan pandangan, harapan, dan gagasan strategis mengenai pelestarian pencak silat sebagai warisan budaya tak benda. Pencak silat dipahami bukan hanya sebagai seni bela diri, tetapi juga sebagai simbol nilai-nilai luhur seperti disiplin, penghormatan, keberanian, serta kebersamaan. Ia tumbuh dari akar sejarah panjang masyarakat Nusantara dan menjadi bagian dari identitas sosial yang patut dijaga keberlanjutannya.
Komisi II DPRD KBB menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan sekadar mempertahankan eksistensi pencak silat, tetapi memastikan relevansinya di tengah arus modernisasi. Perubahan gaya hidup, perkembangan teknologi, serta pergeseran minat generasi muda menuntut adanya pendekatan baru dalam pembinaan dan promosi. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas pencak silat, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci agar pencak silat tetap hidup, berkembang, dan dicintai generasi penerus.
Dalam audiensi tersebut, turut dibahas pentingnya penguatan program pembinaan, dukungan terhadap event dan festival budaya, serta integrasi pencak silat dalam kegiatan pendidikan dan pariwisata daerah. Komisi II memandang bahwa pencak silat memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif, tanpa menghilangkan nilai autentik dan filosofi dasarnya.
Sinergi antara DPRD, Disparbud, dan PPSI diharapkan mampu melahirkan kebijakan yang tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga konkret dan berkelanjutan. Dengan dukungan regulasi, anggaran, serta program yang terarah, pencak silat dapat terus berkontribusi bagi pembentukan karakter generasi muda sekaligus memperkuat identitas budaya Kabupaten Bandung Barat.
Audiensi ini menjadi langkah awal untuk membangun komitmen bersama bahwa pelestarian budaya bukanlah tanggung jawab satu pihak, melainkan kerja kolektif. Melalui kolaborasi yang konsisten, nilai-nilai luhur pencak silat dapat terus diwariskan, sekaligus memberikan dampak positif bagi pendidikan, pariwisata, dan pertumbuhan ekonomi daerah.












